SAVE OUR EARTH

SAVE OUR EARTH
SAVE OUR EARTH

KUALITAS UDARA DALAM GEDUNG

Oleh :Soekartono Soewarno

1. Umum.
1.1 Kualitas udara di dalam gedung (KUG) adalah suatu istilah yang mengacu pada kualitas udara di dalam dan di sekitar gedung dan struktur, terutama yang berkaitan dengan kesehatan dan kenyamanan penghuni di dalam gedung.

1.2 KUG bisa menjadi bahaya oleh kontaminasi mikrobial (jamur, bakteri), kimia (seperti karbon monoksida, radon), penyebab alergi, atau setiap penekan massa atau energi yang dapat mempengaruhi kesehatan. Pencemar udara (polutan) di dalam gedung banyak terkait dengan risiko kesehatan termasuk asthma.
1.3 Penemuan terbaru menunjukkan bahwa udara di dalam gedung lebih sering tercemari dibandingkan udara di luar gedung (sekalipun dengan pencemar-pencemar berbeda).
1.4 Udara di dalam gedung bahayanya terhadap kesehatan sering lebih besar daripada udara tertentu di luar gedung.
1.5 Menggunakan ventilasi untuk melemahkan zat pencemar, filtrasi, dan mengontrol sumber pencemaran adalah cara pertama untuk meningkatkan kualitas udara di dalam gedung di kebanyakan bangunan.
1.6 Teknik-teknik untuk menganalisa KUG termasuk pengumpulan contoh udara, pengumpulan contoh pada permukaan gedung dan modeling komputer dari aliran udara di dalam gedung. Contoh-contoh dianalisa dan hasilnya untuk mengetahui jenis jamur, bakteri, kimia atau tekanan-tekanan lain.
1.7 Penyelidikan ini dapat mengarah ke suatu pengertian tentang sumber-sumber kontaminasi dan akhirnya kepada strategi untuk menghilangkan unsur-unsur yang tidak dikehendaki dari udara.

2. Radon/radium
2.1 Radon/radium tidak kelihatan, gas atomik radioaktif hasil dari kerusakan radioaktif dari radium, yang bisa ditemukan dalam bentuk batu karang di bawah bangunan atau di dalam bahan bangunannya sendiri.
2.2 Radon/radium dapat berisiko serius mungkin mempunyai risiko paling serius menyebar bahaya pada bagian dalam gedung. Amerika dan Eropa turut bertanggung jawab atas sepuluh dari seribu kematian akibat kanker paru-paru setiap tahunnya.
2.3 Ada pengujian relatif sederhana untuk gas radon, tetapi pengujian ini umumnya tidak biasa dilakukan, juga di daerah yang secara sistematis dikenal berbahaya.
2.4 Radon/radium adalah suatu gas yang berat dan akan cenderung berakumulasi pada permukaan lantai.
2.5 Bahan bangunan sebenarnya signifikan sebagai sumber dari radon, tetapi sedikit sekali pengujian dilaksanakan untuk batu, karang, atau produk ubin yang terbawa ke lokasi bangunan.
2.6 Separuh umur radon adalah 3,8 hari, menunjukkan bahwa sumber segera hilang, bahayanya akan banyak berkurang dalam beberapa minggu.
2.7 Bagaimanapun setiap tahunnya ribuan orang pergi bekerja di tambang yang terkontaminasi radon, dan dapat menimbulkan gejala-gejala radang sendi, dan secara serius mempengaruhi kesehatannya.
2.8 Metode pengurangan radon dapat dilakukan dengan pengaturan waktu atau ketika masalah terdeteksi. Cara ini umumnya dapat menghemat biaya dan dapat mengurangi atau menghilangkan kontaminasi yang terkait risiko kesehatan.

3. Jamur-jamur dan penyebab alergi lain
3.1 Jamur sebagai unsur kimia biologi ini dapat timbul dari sejumlah cara, tetapi ada dua kelas yang umum :
(1) uap air yang dapat menyebabkan berkembangnya koloni jamur, dan
(2) bahan-bahan alam terlepas ke udara seperti kotoran binatang dan serbuk tanaman.
3.2 Uap air terbentuk didalam bangunan dapat ditimbulkan :
(1) dari air yang menembus dari selubung bangunan atau dinding,
(2) dari kebocoran plambing,
(3) dari kondensasi karena ventilasi yang kurang tepat, atau
(4) dari uap air tanah yang menembus ke suatu bagian bangunan.
3.3. Dalam daerah dimana bahan cellulosa ( seperti kertas, kayu, termasuk dinding kering) menjadi basah dan tidak menjadi kering dalam waktu 24 jam, jamur lumut dapat menyebar dan melepaskan spora penyebab allergi di dalam udara.
3.4 Dalam banyak kasus, jika material tidak menjadi kering dalam beberapa hari setelah diketahui karena air, jamur tumbuh kira-kira di dalam celah dinding sekalipun hal tersebut tidak kelihatan.
3.5 Melalui penyelidikan jamur yang mungkin termasuk inspeksi yang merusak, harus mampu menentukan adanya atau tidak adanya jamur. Dalam situasi dimana jamur terlihat dan kualitas udara dalam gedung dicurigai, solusi masalah jamur dibutuhkan. Pengujian dan inspeksi jamur sebaiknya dilakukan oleh penyelidik independen untuk mencegah setiap konflik kepentingan dan untuk menjamin hasil yang akurat. Dalam pengujian jamur harus hati-hati, alat uji jamur dan inspektur sebaiknya tidak mempunyai hubungan dengan setiap perusahaan perbaikan.
3.6 Ada beberapa variasi dari jamur yang mengandung senyawa beracun (mycotoxins). Bagaimanapun, terdapatnya tingkat bahaya dari micotoxin dalam banyak kasus tidak mungkin melalui penghisapan, seperti halnya racun yang dihasilkan oleh jamur badan dan pada tingkat yang tidak berarti dalam melepaskan spora.
3.7 Bahaya utama dari pertumbuhan jamur, seperti kaitannya dengan kualitas udara dalam gedung, datang dari sifat-sifat yang dapat menyebabkan alergi dari sel spora dinding. Lebih serius dari pada sifat-sifat yang menimbulkan alergi adalah kemampuan jamur untuk menimbulkan suatu penyakit pernapasan yang serius pada orang yang telah mengidap asma,
3.8 Di dalam gedung, tumbuhnya jamur dapat dicegah :
(1) dengan menjaga humiditas dibawah 50% dan
(2) dengan menghilangkan setiap kebocoran air.
3.9 Masalah uap air yang menyebabkan tumbuhnya jamur :
(1) dapat langsung seperti kebocoran air dan/atau
(2) tidak langsung seperti kondensai karena tingkat humiiditas.
3.10 Jamur selalu berhubungan dengan uap air, untuk memutuskan masalah jamur, masalah uap air harus dikurangi.

4. Karbon Monoksida
4.1 Salah satu pencemar udara di dalam gedung yang bercun akut adalah karbon monoksida (CO), gas ini tidak berwarna, tidak berbau dan sebagai produk sampingan dari pembakaran bahan bakar fosil yang tidak lengkap.
4.2 Sumber umum dari karbon monoksida adalah asap rokok, pemanas ruang yang menggunakan bahan bakar fosil, dapur pemanas sentral yang cacat, dan asap buangan dari kendaraan mobil.
4.3 Meningkatkan kualitas udara di dalam gedung terhadap pencemaran CO dengan cara meningkatkan secara sistematis jumlah restoran bebas asap dan bangunan lain yang secara undang-undang dilarang merokok.
4.4 Dengan berkurangnya oksigen dalam otak karena tingginya kadar CO, dapat membuat orang menjadi mual, pingsan dan kematian.
4.5 Menurut ACGIH (American Conference of Govermental Industrial Hygienist), batas waktu tinggal rata-rata (TWA = Time Waited Average) untuk karbon monoksida adalah 25 ppm. (630-08-0).

5. Senyawa Organik Yang Mudah Menguap.
5.1 Senyawa organik yang mudah menguap (Volatile Organic Compound = VOC) dipancarkan sebagai gas dari padatan atau cairan tertentu.
5.2 Senyawa organik yang mudah menguap termasuk bermacam-macam bahan kimia, sebagiannya mempunyai sifat merugikan untuk jangka waktu pendek dan panjang terhadap kesehatan.
5.3 Konsentrasi dari banyak senyawa yang mudah menguap secara konsisten lebih tinggi di dalam gedung daripada di luar gedung. Senyawa mudah menguap dipancarkan oleh susunan yang lebar dari ribuan produk.
5.4 Contoh-contoh termasuk ; cat dan vernis, cat jalur, sarana pembersih, pestisida, bahan-bahan bangunan dan pelapis, peralatan kantor seperti mesin fotokopi dan printer, cairan untuk koreksi, dan kertas kopi tanpa karbon, bahan-bahan kerajinan dan grafis, termasuk lem dan bahan perekat, penandaan permanen, dan larutan photografi.
5.5 Bahan kimia organik yang luas digunakan sebagai bahan-bahan campuran dalam rumah tangga. Cat, vernis, dan lilin semuanya mengandung larutan organik, seperti halnya banyak pembersih, disinfektan, kosmetik, pembersih lemak dan produk-produk kesenangan (hobby).
5.6 Bahan bakar yang dibuat dari bahan kimia organik,. Semua dari produk ini dapat melepas senyawa organik selama penggunaan, dan, untuk beberapa tingkat, jika bahan-bahan tersebut disimpan.
5.7 Studi tentang senyawa yang mudah menguap pada bangunan-bangunan besar dan di dalam rumah tinggal dalam dua dekade masa silam telah menunjukkan bahwa konsentrasinya sudah berkurang banyak, mungkin sebagai hasil utama dari ketentuan pembatasan emisi sebelumnya dari kabut campuran asap foto kimia dan juga karena kesadaran yang sangat tinggi akan pentingnya udara di dalam gedung untuk kesehatan penghuni.
5.8 Pengujian emisi dari bahan-bahan bangunan yang digunakan di dalam gedung secara umum terus meningkat untuk pelapis lantai, cat, dan bahan-bahan bangunan lain di dalam gedung yang penting dan pelapis.

6. Legionella
6.1 Legionellosis atau penyakit legionnaire disebabkan oleh bakteri yang terbawa oleh air yang tumbuh secara sangat baik di dalam gerakan lambat atau air hangat yang tenang.
6.2 Jalur utama dari paparan aerosolisasi, umumnya banyak dari penguapan pada menara pendingin atau pada pancuran air (shower head).
6.3 Sumber yang umum dari Legionella dalam bangunan komersial adalah dari kurang baiknya penempatan atau pemeliharaan menara pendingin (cooling tower) untuk penguapan, yang sering melepaskan air ter-aerosolisa yang dapat masuk mendekati lubang masuk ventilasi.
6.4 Berjangkitnya pada fasilitas medik dan rumah perawatan, apabila pasien tertekan kekebalannya (immuno-suppressed) atau kekebalannya lemah (immuno weak), secara umum banyak kasus-kasus yang dilaporkan dari legionellosis. Lebih dari satu satu kasus telah melibatkan pancaran air (fountain) di luar gedung pada atraksi-atraksi umum.
6.5 Adanya legionella dalam pasokan air pada bangunan komersial sangat tinggi dilaporkan, seperti kesehatan dapat terkena infeksi.
6.6 Tipikal pengujian legionella melibatkan pengumpulan contoh air dan permukaan kain penyeka (lap) dari penguapan dasar pendingin, pancuran air, kran-kran, dan lokasi lain dimana air hangat berkumpul. Contoh-contoh kemudian dibiakkan dan membentuk unit-unit koloni (colony forming unit = cfu) legionella diukur sebagai cfu/liter.
6.7 Legionella adalah suatu parasit (benalu) dari protozoa seperti amoeba, dan perkembangannya memerlukan kondisi-kondisi tertentu untuk kedua organisma. Bentuk bakterium “biofilm” tahan terhadap bahan kimia dan pengolahan antimikrobial, termasuk chlorine.
6.8 Pemusnahan berjangkitnya legionella dalam bangunan komersial beragam, tetapi sering dengan pengglontoran air yang sangat panas (1600F), sterilisasi dari air dengan cara penguapan, penggantian pancuran air, dan dalam banyak kasus pengglontoran dengan garam logam berat.
6.9 Tindakan pencegahan termasuk pengaturan temperatur air panas dan yang diijinkan 1200F pada lubang keluar (tap), evaluasi denah rancangan dari fasilitas, mengganti kran-kran aerator, dan pengujian berkala dalam daerah yang dicurigai.

7. Serat-serat asbes
7.1 Pemerintah Amerika Serikat dan beberapa negara bagiannya telah menetapkan standar kadar yang dapat diterima dari serat asbes di udara dalam gedung.
7.2 Banyak bahan bangunan yang umum digunakan sebelum tahun 1975 yang mengandung asbes, seperti lantai ubin, langit-langit, pita yang buruk, bungkus pipa, damar yang dipakai dalam campuran semen dan bahan-bahan insulasi yang lain.
7.3 Pelepasan serat-serat asbes tidak terjadi kecuali apabila bahan-bahan bangunan yang mengandung asbes terganggu, seperti dengan pemotongan, pengamplasan, pengeboran atau model ulang bangunan. Perlu ada peraturan ketentuan khusus yang keras terhadap pemakaiannya untuk di sekolah.
7.4 Penghisapan serat asbestos oleh manusia dalam waktu lama, dapat menimbulkan kanker paru-paru yang akut. Sementara itu :
(1) perokok mempunyai risiko yang lebih besar terkena kanker paru-paru dibandingkan dengan pekerja yang menghadapi asbes dan tidak merokok,
(2) perokok yang menghadapi asbes berkadar tinggi bertahun-tahun mempunyai risiko lebih besar terkena kanker paru-paru daripada perokok yang tidak menghadapi asbes, atau orang yang menghadapi asbes berkadar tinggi yang tidak merokok.
7.5 Asbes ditemukan di rumah-rumah tua dan bangunan-bangunan, tetapi menjadi sangat berbahaya di sekolah. Asbes juga digunakan luas pada atap sirap, bahan kedap api, sistem pemanasan, ubin lantai dan langit-langit dalam bangunan lebih tua.
7.6 Apabila bahan yang mengandung asbes rusak atau terpisah, serat-serat pada mikroskop terlihat larut ke dalam udara.
7.7 Risiko kanker paru-paru dengan menghisap serat asbes juga menjadi lebih besar untuk perokok.
7.8 Sementara kebanyakan asbes yang terkait dengan kanker dihubungkan dengan intensitas dan durasi paparan, gejala-gejala penyakit biasanya tidak muncul sampai kira-kira 20 sampai 30 tahun setelah paparan pertama ke asbes.
7.9 Pemusnahan bahan-bahan yang mengandung asbes tidak selalu bijaksana karena serat dapat dilepaskan ke dalam udara selama proses pemusnahan. EPA mensyaratkan pemusnahan hanya untuk mencegah paparan yang berarti. Suatu program manajemen lengkap untuk bahan-bahan yang mengandung asbes sering direkomendasikan penggantinya.

8. Karbon Dioksida
8.1 Karbon dioksida (CO2) adalah pencemar udara dalam gedung yang dipancarkan/ dikeluarkan oleh manusia dan berhubungan dengan aktifitas metabolisme manusia.
8.2 Karbon dioksida berkadar tinggi di dalam gedung dapat menyebabkan penghuninya menjadi mengantuk, pusing, atau menurunkan tingkat produktivitas kerja.
8.3 Manusia adalah sumber utama timbulnya karbon dioksida di dalam gedung. Kadar karbon dioksida di dalam gedung menjadi indikator dari kecukupan ventilasi udara luar relatif terhadap densitas penghuni di dalam gedung dan aktifitas metabolisme.
8.4 Untuk menghapuskan banyak keluhan tentang Kualitas Udara di dalam Gedung, total karbon dioksida di dalam gedung sebaiknya kurang dari 600 ppm diatas level karbon dioksida di udara luar.
8.5 NIOSH menguusulkan konsentrasi karbon dioksida di dalam gedung yang melebihi 1000 ppm diberi tanda “ventilasi tidak cukup”.
8.6 ASHRAE merekomendasikan karbon karbon dioksida tidak melebihi 700 ppm di atas level ambien udara luar.
8.7 Standar UK untuk sekolah mengatakan bahwa karbon dioksida di ruang guru dan ruang belajar, jika diukur pada ketinggian kepala orang yang sedang duduk dan rata-rata pada sepanjang hari tidak melebihi 1500 ppm. Acuan sepanjang hari untuk jam sekolah normal (yaitu jam 09.00 sampai dengan 15.30) dan termasuk periode tak berpenghuni seperti pada waktu istirahat makan siang.
8.8 Standar Kanada batas karbon dioksida sampai 3500 ppm.
8.9 OSHA membatasi konsentrasi karbon dioksida di tempat kerja sampai 5000 ppm untuk periode waktu yang lama, dan 35000 ppm untuk 15 menit.

9. Ozon.
9.1 Ozon dihasilkan oleh sinar ultraviolet (UV) dari matahari yang mengenai atmosfer bumi (terutama dalam lapisan ozon), petir, peralatan lis lain lain trik tertentu (seperti alat ionisasi udara), dan seperti hasil sampingan dari jenis-jenis pencemaran lain
9.2 Ozon mempunyai konsentrasi yang besar pada pada ketinggian dimana biasanya dilalui pesawat-pesawat jet penumpang.
9.3 Reaksi antara ozon dan zat-zat di dalam pesawat, termasuk minyak kulit dan kosmetik, dapat membentuk kimia berbahaya sebagai produk sampingan. Ozonnya sendiri juga iritasi terhadap jaringan paru-paru dan berbahaya terhadap kesehatan manusia.
9.4 Pesawat jet yang besar mempunyai filter ozon untuk mengurangi konsentrasi di dalam kabin sampai pada tingkat yang aman dan nyaman.
9.5 Udara luar yang dipakai untuk ventilasi mungkin mempunyai ozon cukup besar untuk bereaksi dengan pencemar dalam gedung seperti minyak kulit dan bahan kimia udara dalam gedung umum lain atau pada permukaannya.
9.6 Perhatian tertuju untuk menjamin penggunaan produk pembersih yang ramah lingkungan, seperti jeruk atau ekstrak terpena yang membentuk reaksi kimia sangat cepat dengan ozon. Ventilasi dengan udara luar mengandung konsentrasi ozon tinggi dapat mempersulit masalah.

10 Negara-negara Berkembang.
Sumber utama pencemaran udara dalam gedung di negara berkembang adalah pembakaran biomassa (contoh kayu, arang kayu, pupuk dari kotoran hewan, atau sisa-sisa tanaman) untuk pemanasan atau memasak. Hasilnya menunjukkan tingginya tingkat partikel bahan-bahan yang mengakibatkan antara 1,5 dan 2 juta kematian dalam tahun 2000.

11. Perancangan HVAC
11.1 Usaha membuat rancangan ramah lingkungan pada industri HVAC rumah tangga dan komersial menekankan isu kualitas udara pada saat perancangan dan konstruksinya.
11.2 Salah satu teknik untuk mengurangi konsumsi energi pada saat memelihara kecukupan kualitas udara, adalah dengan mengendalikan kebutuhan ventilasi, daripada menyetel melalui penetapan laju pertukaran udara.
11.3 Sensor karbon dioksida digunaakan untuk mengendalikan laju secara dinamis, berdasarkan pada emisi nyata penghuni bangunan.
11.4 Pada beberapa tahun yang lalu, telah banyak diperdebatkan antara para spesialis kualitas udara tentang definisi yang tepat dari kualitas udara dalam gedung dan secara spesifik kualitas udara dalam bangunan apa yang dapat diterima secara resmi.
11.5 Satu cara secara kuantitatif untuk memastikan kesehatan dari udara dalam bangunan adalah dengan frekuensi pertukaran udara yang efektif dalam bangunan dengan udara luar.
11.6 Untuk contoh di UK, ruang kelas dibutuhkan 2½ kali pertukaran udara per jam. Pada bangunan hall, gimnasium, ruang makan dan ruang fisioterapi, ventilasi sebaiknya cukup untuk membatasi karbon dioksida sampai 1500 ppm.
11.7 Di Amerika, dan menurut standar ASHRAE, ventilasi di ruang kelas didasarkan pada jumlah udara luar per penghuni ditambah jumlah udara luar per unit luas lantai , bukan dengan dasar pertukaran udara per jam. Karena karbon dioksida datang dari penghuni dan udara luar, kecukupan ventilasi per penghuni ditunjukkan oleh konsentrasi di dalam gedung dikurangi konsentrasi di luar gedung. Nilai 615 ppm di atas konsentrasi di luar bangunan menunjukkan kira-kira 15 ft3/menit udara luar per penghuni dewasa yang sedang mengerjakan pekerjaan kantor dengan duduk terus menerus di mana udara di luar bangunan berisi konsentrasi CO2 rata-rata 385 ppm secara global di atmosfer.
11.8 Di dalam ruang kelas, standar ASHRAE 62.1 tentang Ventilasi untuk kualitas udara yang dapat diterima pada umumnya mengakibatkan kira-kira 3 kali pertukaran udara per jam, tergantung pada kepadatan penghuni. Tentu saja penghuni bukan satu-satunya sumber pencemaran, ventilasi udara luar mungkin perlu lebih tinggi jika sumber pencemarannya lebih kuat atau diluar kebiasaan yang ada di dalam bangunan.
11.9 Jika udara luar tercemar, lalu membawa udara luar masuk ke dalam gedung, dapat benar-benar menambah buruk kualitas keseluruhan dari udara di dalam gedung dan memperburuk beberapa gejala pada penghuni berhubungan dengan udara luar yang tercemar.
11.10 Pemakaian filter udara dapat menyaring sebagian dari pencemaran udara, Departemen Efisiensi Energi dan Energi Terbarukan Amerika menulis : Filtrasi udara sebaiknya mempunyai Nilai Efisiensi Minimum 13 seperti yang ditentukan oleh ASHRAE 52.2-1999”.
11.11 Filter udara digunakan untuk mengurangi sejumlah debu yang menempel pada koil yang basah. Debu dapat berperan sebagai makanan untuk menumbuhkan jamur pada koil yang basah dan ducting/corong udara serta dapat mengurangi efisiensi dari koil.
11.12 Manajemen uap air dan kontrol humiditi memerlukan pengoperasian sistem HVAC sesuai rancangan.
11.13. Manajemen uap air dan kontrol humiditas dapat konflik dengan usaha untuk mencoba mengoptimalkan pengoperasian konservasi energi. Untuk contoh, manajemen uap air dan kontrol humiditas memerlukan sistem dengan mengeset/menyetel tambahan pasokan udara pada temperatur rendah (level perancangan), sebagai ganti temperatur tinggi yang kadang-kadang digunakan untuk konservasi energi dalam mendinginkan kondisi iklim yang dominan.
11.14 Kebanyakan di Amerika dan banyak negara di Eropa dan Jepang, selama mayoritas jam per tahun, temperatur udara luarnya cukup dingin dimana udara tidak membutuhkan pendinginan untuk kenyamanan termal di dalam gedung.
11.15 Humiditas yang tinggi di luar gedung menciptakan perhatian yang perlu hati-hati untuk kebutuhan tingkat humiditas di dalam gedung. Humiditas yang tinggi menaikkan pertumbuhan jamur dan uap air di dalam gedung dimana terkait dengan masalah pernapasan penghuni.
11.16 “Temperatur titik embun” (Dew point temperature) adalah ukuran absolut dari uap air di udara. Beberapa fasililitas sedang dirancang dengan titik embun rancangan lebih rendah dari 500F, dan sebagian lebih tinggi dan lebih rendah dari 400F.
11.17 Beberapa fasilitas sedang dirancang menggunakan roda pengering (dehumidifier) dengan pemanas api dari gas untuk mengeringkan roda cukup untuk mendapatkan titik embun yang diinginkan. Pada sistem ini, setelah uap air dihilangkan dari tambahan udara luar, koil pendingin digunakan untuk menurunkan temperatur sampai level yang diinginkan.
11.18 Bangunan komersial dan kadang rumah tinggal, menjaga tekanan sedikit positip terhadap udara luar untuk mengurangi infiltrasi. Membatasi infiltrasi membantu manajemen uap air dan kontrol humiditas.
11.19 Pelarutan pencemar di dalam gedung dengan udara luar adalah efektip dimana udara luar bebas dari pencemaran yang berbahaya.
11.20 Ozon udara luar terdapat di dalam gedung pada konsentrasi yang rendah karena ozon sangat reaktif dengan banyak bahan kimia yang berada di dalam gedung. Hasil reaksi antara ozon dan banyak pencemar di dalam gedung termasuk komponen organik yang mungkin sangat bau, iritasi atau beracun dari apa yang terbentuk. Produk dari kimia ozon ini termasuk antara lain formaldehida, aldehid dengan berat molekul yang tinggi, aerosol acid, partikel-partikel halus dan sangat halus,
11.21 Laju ventilasi udara luar lebih tinggi, konsentrasi ozon di dalam bangunan menjadi lebih tinggi dan dan semakin banyak reaksi-reaksi terjadi, bahkan pada tingkat/level terendah juga berlangsung. Hal ini menyatakan bahwa ozon sebaiknya dihilangkan dari udara ventilasi, khususnya di daerah di mana tingkat ozon bagian luar bangunan sering lebih tinggi.
11.22 Penelitian terbaru telah menunjukkan bahwa angka kematian dan keadaan tidak sehat bertambah dalam populasi yang umum selama periode ozon diluar bangunan lebih tinggi dan ambang pengaruh ini sekitar 20 ppb.(part per billion).

12 Program Kelembagaan.
12.1 Topik KAG (Kualitas Udara di dalam Gedung) sudah menjadi populer karena kesadaran yang semakin besar terhadap masalah kesehatan yang disebabkan oleh jamur dan pemicu asthma dan alergi. Kesadaran telah juga meningkat dengan keterlibatan “United States Environmental Protection Agency (Agen Proteksi Lingkungan Amerika Serikat). Mereka telah mengembangkan program “Alat KAG untuk Sekolah” untuk membantu meningkatkan kondisi lingkungan di dalam gedung pada lembaga pendidikan.
12.2 Lembaga Nasional untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja (“National Institute for Occupational Safety and Health”) melakukan Evaluasi Bahaya Kesehatan (Health Hazard Evaluation) di tempat kerja atas permintaan karyawan, instansi yang mewakili karyawan, atau karyawan-karyawan, untuk menentukan apakah setiap benda yang ditemukan di tempat kerja mempunyai pengaruh potensial terhadap racun, termasuk kualitas udara di dalam gedung.
12.3 Beragam ilmuwan bekerja dalam bidang kualitas udara di dalam gedung termasuk ahli kimia, ahli fisika, ahli teknik mekanikal, ahli biologi, ahli bacteriologi dan ahli komputer. Sebagian dari para profesional ini bersertifikat organisasi seperti “American Industrial Hygiene Association” dan “American Indoor Air Quality Council”Di tingkat Internasional, “International Society of Indoor Air Quality and Climate (ISIAQ)” dibentuk pada tahun 1991, organisasi ini telah menyelenggarakan dua konferensi utama, “Indoor Air and Healthy Buildings “. Jurnal ISIAQ Indoor Air, diterbitkan 6 kali per tahun dan berisi acuan ilmiah yang ditinjau dari studi antar disiplin termasuk pemaparan; pengukuran, modeling dan akibatnya terhadap kesehatan.